Sabtu, 24 April 2010

Sinopsis Jumong episode 33
“Padamkan api! Padamkan api!” prajurit Han kelabakan mematikan api, sementara pasukan BuYeo memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Han.
Pasukan Jumong dan Pasukan Geum Wa bertemu di markas perkemahan Han. Mereka menyerang dan membunuh pasukan Han. Sepertinya keadaan sangat menguntungkan bagi BuYeo.
Geum Wa dengan bersemangat menyerang musuh.
Jenderal Heuk Chi khawatir. “Yang Mulia, terlalu riskan bagimu untuk bertarung. Kau harus kembali sekarang.” katanya.
“Pergi dari hadapanku!” kata Geum Wa, tidak memedulikan kata-kata Heuk Chi.
Geum Wa maju kembali untuk bertarung.Ia melihat Yang Jung menaiki kudanya, hendak melarikan diri.

Di lain sisi, Cheon Dong, yang ikut bertarung, kalah dari Iron Army dan tertusuk.
“Cheon Dong!” teriak Jumong, maju dan membunuh Iron Army yang telah menusuk Cheon Dong.
“Komandan… Tolong balaskan dendam… untuk orang tuaku…” Cheon Dong berusaha keras bicara. Cheon Dong menangis, kemudian meninggal.
“Cheon Dong!” panggil Jumong, menetesan air mata. Ia mengambil pedang yang terjatuh di tanah, dan dengan kemarahan yang meledak, menyerang Pasukan Han.
So Seo No, Sayong dan Oo Tae tidak ikut bertarung. Tentu saja, kerena mereka bukan prajurit, melainkan supplier.
“Komandan, aku menemukan gubernur Jinbun.” kata Oyi, mengajak Jumong.
Jumong dan kawan-kawannya membunuh pengawal Gubernur Jinbun. Setelah itu, tanpa ragu, Jumong menebas kepala Gubernur Jinbun hingga tewas.

Geum Wa menyerang prajurit Han. Tanpa ia sadari, ada satu orang prajurit yang bersembunyi di balik gerobak dan mengarahkan panah padanya. Geum Wa tertusuk, tepat di dada. Ketika si penembak hendak maju untuk menyerang, Geum Wa membunuhnya.
“Yang Mulia!” teriak Song Ju.
“Jangan biarkan pasukan BuYeo tahu.” kata Geum Wa, kesakitan. “Bantu aku berdiri.”
Dengan tertatih-tatih, Geum Wa berjalan. Makin lama pandangannya semakin kabur. Geum Wa pingsan.
Saat subuh, pertarungan selesai. Yang Jung memerintahkan pasukannya untuk mundur.
Yang Jung sangat terpukul karena kekalahan itu. “Brengsek kau Jumong!” gumamnya marah.

BuYeo menang.
“Hidup BuYeo!” teriak Jumong, diikuti oleh pasukannya.
“Hidup Yang Mulia!” teriak Jumong lagi.
Seluruh prajurit sangat senang, mungkin kecuali Dae So dan Young Po.
“Kumpulkan prajurit yang mati.” kata Jumong. “Kita akan kembali ke markas.”
Jumong menoleh, menarap Dae So, kemudian mendekatinya. “Kau bertarung dengan baik, Dae So.” katanya.
“Kau juga.” kata Dae So terpaksa.
Jumong memerintahkan Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo untuk mencari tahu dimana Pasukan Han mundur. Ia ingin menyerang mereka sampai mereka lenyap, kemudian mengambil alih Jinbun dan Imdun.

Para pengungsi menangisi kematian Chaeon Dong.
“Aku pasti akan membalaskan dendam Cheon Dong.” kata Jumong.berjanji.
“Komandan!” panggil Man Ho, datang berlari-lari. “Aku melihat Gubernur Imdun melarikan diri dari markas Pasukan Han.”
“Tolong izinkan kami untuk memenggal kepala Gubernur itu untuk membalaskan kematian Cheon Dong!” kata pengungsi.
“Gubernur hanya dikawal oleh sedikir prajurit.” kata Man Ho. “Izinkan aku pergi dan membunuhnya!”
Jumong berpikir sejenak, kemudian pergi bersama Man Ho dan para pengungsi.
Na Ru mendengar pembicaraan mereka, dan melaporkan pada Dae So.
Dae So memerintahkan Na Ru untuk memberi informasi tersebut pada Yang Jung.
Na Ru ragu, namun Dae So meyakinkannya bahwa BuYeo sudah memenangkan perang dan ia tidak perlu khawatir.

Geum Wa memaksakan diri untuk terlihat kuat, walaupun sebenarnya kondisinya kritis.
Dae So, Young Po dan yang lainnya mengabarkan kemenangan BuYEo padanya.
Geum Wa senang. Ketika hendak berdiri, ia terjatuh.

Na Ru memberi informasi pada Yang Jung. Yang Jung tersenyum senang, kemudian memerintahkan prajuritnya intuk memanggil Iron Army.
Denyut nadi Geum Wa sangat lemah. Ia harus segera dibawa kembali ke BuYeo. Namun Jumong tidak juga datang.

Di tempat lain, Putri Bintang merasakan pertanda tidak baik. Burung Berkaki Tiga tiba-tiba lenyap. Yeo Mi Eul sangat cemas.
Yeo Mi Eul memanggil Yang Tak, orang yang bertanggung jawab disana, kemudian meminta tolong padanya mencari kabar tentang Jumong.
Peramal Ma Oo Ryeong merasakan sesuatu yang baik akan terjadi pada Dae So. Ia melihat Dae So dengan sangat megah. Mungkin ini adalah pertanda baik bagi masa depan Dae So.
Wan Ho sanagt senang mendengarnya, sementara Yoo Hwa menjadi cemas. Ia juga merasakan firasat buruk.

Waktu telah berlalu, Jumong tak juga muncul di markas Pasukan BuYeo.
Tiba-tiba Man Ho datang dengan babak belur dan menangis.
“Ada apa?” tanya Dae So. “Dimana Jumong.”
“Pangeran…” Man Ho menangis.
“Aku tanya, dimana dia?!” tanya Young Po.
“Ketika kami hendak kembali setelah membunuh Gubernur Imdun, kami disergap oleh Iron Army.” kata Man Ho. “Semua pengungsi terbunuh.”
“Bagaimana dengan Jumong?” tanya Dae So. “Apa yang terjadi padanya?”
“Walaupun Komandan bertarung dengan Iron Army sampai akhir, tapi aku tidak tahu… apakah ia masih hidup atau tidak… karena aku pingsan setelah tertusuk.” Man Ho menangis.
Dae So memerintahkan Jenderal Heuk Chi untuk mencari Jumong.
Ma Ri dan Hyeopbo belum mengetahui berita buruk tentang Jumong. Mereka malah memerintahkan pasukan agar siap menyerang Jinbun dan Imdun.
Tiba-tiba Oyi datang dengan raut wajah sedih. “Komandan menghilang.” katanya. “Dia diserang oleh Iron Army setelah berhasil membunuh Gubernur Imdun. Semua pengungsi Juga mati. Yang masih hidup hanyalah Paman Man Ho.”
Oo Tae memberitahu So Seo No. “Pangeran Jumong menghilang. Kita tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.” katanya.
So Seo No sangat terpukul. “Apa maksudmu? Dia menghilang? Apa yang terjadi?!”
Oo Tae menunduk dengan wajah sedih.
So Seo No menangis, dan pergi mencari Jumong.
Iron Army yang menyerang Jumong melapor pada Yang Jung.
“Jumong jatuh dari tebing setelah tertusuk panah.” kata Iron Army.
“Apakah aku dia mati?” tanya Yang Jung.
“Dia mungkin mati.” jawab Iron Army.
“Hahahaha..Bagus sekali!” kata Yang Jung tertawa. “Kalian telah mengambil jantung Pasukan BuYeo!”
Yang Jung suga sudah mengetahui bahwa Geum Wa sekarat. Ia kemudian memerintahkan pasukannya bersiap menyerang BuYeo.

So Seo No, Ma Ri, Oyi, Hyeopbo, dan yang lainnya mencari Jumong di sepanjang sungai. So Seo No menangis-nangis histeris.
“Dia tidak mungkin mati semudah itu.” kata So Seo No. “Kita harus menemukannya!”
So Seo No bangkit, namun tiba-tiba pingsan.
Mereka membawa So Seo No kembali ke perkemahan. So Seo No jatuh sakit dan tidak sadarkan diri.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menangis.

Karena Jumong menghilang dan Yang Mulia sekarat, maka Dae So mengambil alih pimpinan pasukan.
Mengetahui bahwa Yang Jung hendak menyerang pasukan BuYeo, Dae So ingin mengadakan perundingan.
“Hentikan pertarungan.” kata Dae So pada Yang Jung. “Kami tidak akan menyerang Jinbun dan Imdun.”
Yang Jung tersenyum. “Jumong menghilang, Geum Wa sekarat dan pasukan Yo Dong hampir datang. Sekarang kau mau menghentikan perang dan pulang? Kurasa itu tidak adil.”
“Jika kami melanjutkan perang, mungkin kami akan bisa menghabisi Hyeon To sebelum pasukan Yo Dong datang. Lagipula, aku sebenarnya tidak menyetujui peperangan melawan Han dan menolongmu. Jika aku kembali ke BuYeo, aku pasti akan menjadi Putra Mahkota. Dan jika terjadi sesuatu pada Yang Mulia, mungkin aku akan menjadi raja. Jika itu terjadi, maka aku akan mengangkat Seol Ran sebagai Ratuku, seperti yang sudah kujanjikan.”
Yang Jung berpikir dan setuju.
Dae So kembali ke markas dan memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kembali ke BuYeo.
“Dae So!” protes Young Po. “Jika kita menyerang Jinbun dan Imdun sekarang, maka kita bisa memenangkan peperangan ini. Berikan pasukan padaku. Aku akan menyerang mereka.”
Dae So tidak setuju, dan tetap pada keputusannya, yaitu kembali ke BuYeo.
Dae So menjenguk Geum Wa, yang sedang pingsan. “Putra kesayanganmu menghilang.” kata Dae So. “Aku tahu kau mungkin tidak akan suka, tapi sekarang segalanya akan jatuh ke tanganku. Aku akan menunjukkan padamu bahwa semua yang kau percayai selama ini, hanyalah sebuah ilusi. Tunggu dan lihat saja.”

Mendengar keputusan Dae So, Oyi, Hyeopbo dan Ma Ri protes. Mereka berlutut di depan Dae So.
“Pangeran, kirim kami.” kata Ma Ri.
“Pangeran, kami ingin membalaskan dendam Komandan kami!” kata Oyi. “Kami akan menghabisi Pasukan Han.”
“Kita tidak bisa kembali seperti ini.” kata Hyeopbo.
Na Ru membentak mereka dan menyuruh mereka pergi.
“Pangeran, Komandan merencanakan perang ini untuk menyelamatkan para pengungsi di Jinbun dan Imdun.” kata Oyi bersikeras. “Kita belum melakukan apapun. Kita tidak bisa kembali. Pangeran, kirimkan kami pergi!”
Dae So tidak menggubris mereka.
“Komandan… Komandan…” gumam mereka, menangis.

So Seo No telah sadar. Ia menangis dan menangis lagi.
“Aku tahu hatimu sedih.” kata Dae So. “Tapi Jumong sudah meninggal.”
“Komandan Jumong hanya menghilang.” kata So Seo No. “Kenapa kau yakin dia sudah mati?”
“Jika dia masih hidup, dia pasti akan kembali.” kata Dae So, tersenyum senang.
“Dia masih hidup.” kata So Seo No. Ia mengambil kudanya dan pergi ke tepi sungai, teringat Jumong dan menangis.
Di bengkel BuYeo, Mo Pal Mo menciptakan sebuah pedang yang sangat luar biasa. Dia khusus membuat pedang tersebut untuk Jumong. Itu adalah pedang yang lebih hebat dibanding pedang Han.

Pasukan BuYeo telah kembali ke BuYeo.
Mu Duk memberi tahu Yoo Hwa bahwa Pangeran Jumong tidak kembali bersama mereka. “Pangeran Jumong menghilang. Kita tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak.”
Yoo Hwa menangis.
Mu Song memberikan kabar yang sama pada Mo Pal Mo.
Mo Pal Mo menangis. “Tidak mungkin. Tidak mungkin. Pangeran… Pangeran, kemana kau pergi, meninggalkan aku seperti ini?” gumam Mo Pal Mo sedih.
So Seo No kembali ke rumah GyehRu. Yeon Ta Bal memeluk putrinya.
Semua usaha yang dilakukan oleh Jumong dan Geum Wa, Dae So-lah yang mendapat semua penghargaannya.
Permaisuri Wan Ho sangat senang. Jika Geum Wa mati, maka Dae So bisa menjadi Raja.
“Ini hanya permulaan.” kata Dae So, tersenyum. “Aku akan membuat mereka semua membayar penghinaan yang pernah mereka
berikan pada kita.”

Sinopsis Jumong Episode 32

Jumong merasa sangat marah melihat pasukannya dibunuh. Ia, Ma Ri, Oyi, dan Hyeopbo menyerang pasukan Han dan berkumpul di kanan. "Murdur ke sini! Mundur ke sini!" teriak Jumong memerintahkan pasukannya.
"Komandan, serangkan semua yang disini pada kami! Pergi sekarang!" kata Oyi.
Jumong malah merentangkan busurnya, mengarahkan panah pada pasukan Han. "Kita pergi bersama."
Jumong, seorang diri, memanah Iron Army, dengan pasukannya berdiri di belakangnya.
Pemimpin Iron Army datang. Ia dan Jumong sama-sama mengarahkan panah ke satu sama lain. Lalu...
Panah Jumong berhasil menjatuhkan panah pemimpin Iron Army dan menusuk tepat di jantungnya.
"Ayo pergi!" kata Jumong.

Yeo Mi Eul datang menemui Song Yang untuk mengadakan perundingan.
"Aku tidak punya urusan denganmu!" kata Song Yang. "Lebih baik kau pergi!"
"Jika aku pergi, kau akan menemui bencana besar."ancam Yeo Mi Eul. "Aku bisa melihat takdirmu. Apa kau ingin tahu?"

"Lepaskan So Seo No dan berdamailah dengan Yeon Ta Bal." kata Yeo Mi Eul.
"Tidak bisa. Setiap aku berpikir bahwa mereka sudah menghinaku, aku hanya bisa memuaskan kemarahanku dengan menghancurkan GyehRu." kata Song Yang.
"GyehRu dan BiRyu adalah bagian dari Jolbon. Jika kau peduli pada masa depan Jolbon, lepaskan mereka." kata Yeo Mi Eul menjelaskan. "GyehRu telah mengembangkan senjata yang setara dengan Han, dan mereka akan memberikan teknik tersebut pada klan lain di Jolbon, termasuk BiRyu. Jika kau tetap keras kepala, BiRyu akan terisolasi di Jolbon."
"Terisolasi?!" seru Song Yang. "Hwanna, Yunna dan Gwanna semuanya mendukungku!"
Yeo Mi Eul tersenyum. "Untuk sekarang, ya. Tapi sampai kapan itu akan berlangsung? Perang ini akan dimenangkan oleh BuYeo. Jika kau tetap berada di pihak Han, maka bencana besar akan terjadi padamu."
Song Yang tetap bersikeras pada keputusannya dan menolak membebaskan So Seo No.

Sampai pada batas waktu, Yeon Ta Bal tak juga memberikan kabar. Song Yang marah dan hendak memenggal So Seo No dan yang lainnya.
Tiba-tiba seseorang menembakkan panah untuk membunuh prajurit BiRyu. Jumong dan pasukannya datang untuk menyelamatkan rombongan GyehRu.
Song Yang melarikan diri.
So Seo No sangat marah. Ia mengambil pedangnya untuk menebas para prajurit BiRyu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jumong pada So Seo No.
So Seo No mengangguk dan menangis. "Kesalahanku membuat masalah besar bagi BuYeo dan Pangeran Jumong." katanya. "Memikirkan bahwa perbuatanku mungkin akan menghancurkan strategi perangmu dan membuatmu kalah perang, itu membuatku gila."
"Jangan berkata begitu." Jumong menghibur. "Kau membuatku lebih kuat karena dengan sukarela mau menjadi penyedia kebutuhan kami."

Jumong dan So Seo No kembali ke istana BuYeo. Dae So senang, karena ia pikir Na Ru-lah yang telah menyelamatkan So Seo No. Ia sangat terkejut ketika melihat bahwa Jumong-lah yang berada di samping So Seo No.
Jumong kembali bersama So Seo No, dan berhasil menyelamatkan barang-barang kebutuhan selama perang.

Dae So memarahi Na Ru. Namun Na Ru menjelaskan bahwa ketika ia mau pergi, Permaisuri Wan Ho dan Pangeran Young Po-lah yang melarangnya, demi kebaikan Dae So.
"So Seo No ada di pihak Jumong, kenapa kau mau menyelamatkannya?" tanya Wan Ho. "Dia hanya akan menghancurkanmu!"

Jumong meminta Geum Wa agar memeriksa para pemimpin SaChulDo dan permaisuri Wan Ho. "Walaupun mereka mengirimkan pasukan bantuan dalam perang ini, tapi kita tidak tahu konspirasi apa yangmungkin mereka rencanakan saat kita meninggalkan istana." kata Jumong.
"Kau tidak perlu khawatir." kata Geum Wa. "Aku memerintahkan para pemimpin SaChulDo agar mengirimkan putra mereka untuk ikut berperang. Aku ragu mereka akan berani melakukan konspirasi setelah mengirimkan putra-putra mereka."
"Apakah kau yakin bahwa mereka akan mematuhi perintahmu?" tanya Jumong ragu.
"Aku mengatakan pada mereka, jika mereka tidak mematuhiku, aku akan menyerang SaChulDo sebelum menyerang Han."

Lagi-lagi Dae So memberi informasi pada Yang Jung. Karena perang akan dimulai, maka Dae So memerintahkan Na Ru agar menyuruh orang terpercaya yang mengirimkan pesannya ke Hyeon To.
Pengirim pesan suruhan Na Ru berangkat menuju Hyeon To. Namun di tengah jalan, Oyi, Hyeopbo dan Ma Ri sudah menghadang jalannya. Mereka meminta suruhan itu agar menyerahkan surat Dae So, jika tidak maka mereka akan membunuhnya.

Ma Ri dan yang lainnya menyerahkan surat Dae So pada Jumong.
Jumong membaca suratnya dan menemui Dae So.
"Ada apa?" tanya Dae So pada Jumong.
Jumong menunjukkan surat Dae So. "Ini adalah surat yang kau kirimkan pada Yang Jung." kata Jumong tenang, sambil tersenyum tipis.
Dae So sangat terpukul.
"Rancanaku berjalan dengan lancar karena kau memberikan informasi yang salah pada Yang Jung." ujar Jumong. "Dae So, aku mengerti perasaanmu saat ini. Aku juga mengerti kenapa kau membuat penilaian dan keputusan yang gegabah. Tapi, bukan berarti aku bisa memaafkanmu atas apa yang telah kau lakukan. Kau melakukan hal yang seharusnya tidak pernah kau lakukan dalam situasi apapun. Jika hal ini terjadi lagi, aku akan menghukummu, bukan sebagai Pangeran BuYeo, tapi sebagai mata-mata Han." Jumong berkata tajam, kemudian beranjak keluar.
Dae So merasa terhina. Ia memukul meja.

Selesai dengan Dae So, kini giliran Jumong melakukan sesuatu pada Young Po.
Do Chi sedang sibuk merapikan barang-barang dagangannya dan memberikan sekotak keping emas pada Young Po.
Jumong datang bersama ketiga temannya, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo.
"Dimana Do Chi?" tanya Jumong.
Han Dang mengantar Jumong menemui Do Chi.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Young Po.
"Aku datang karena ku punya saksi bahwa Do Chi melakukan perdagangan ilegal." kata Jumong. Ia menoleh menatap Do Chi. "Aku tahu bahwa kau menyelundupkan barang dari Heng In dan Ok Jo. Kau akan dihukum mati sesuai dengan hukum perang."
Do Chi ketakutan dan meminta perlindungan Young Po.
Dengan polos, Young Po memberitahu Jumong bahwa jika terjadi perang, harga-harga akan naik. Jika mereka menjual barang-barang tersebut, maka warga akan senang. "Do Chi telah berbuat sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan negara. Dia seharusnya diberi hadiah, bukan dibunuh."
Jumong terdiam. Mungkin di dalam hatinya, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya itu. "Bagus sekali." katanya. "Jika itu yang dilakukan Do Chi, aku tidak akan menghukumnya. Tapi, aku tetap akan mengambil barang-barang yang diselundupkan olehnya."
"Tapi.. tapi.. Komandan.." Young Po mencoba protes, tapi Jumong tidak mendengarkannya dan berjalan pergi.

Hyeopbo berkunjung ke rumah GyehRu untuk bertemu dengan Sayyong. Mereka bercakap-cakap.
"Bukankah seharusnya kau bersikap sebagai laki-laki jika sedang berperang?" tanya Hyeopbo perhatian.
"Benar, tapi itu tidak mudah." kata Sayong, tersenyum.
Hyeopbo menyerangkan sebuah pedang pada Sayong. "Aku meminta pedang ini dari Mo Pal Mo." katanya. "Ketika kau bertarung, bertarunglah seperti laki-laki."
"Terima kasih."
Hyeopbo malu. Aneh banget nih hubungan kedua orang ini. Hehehe...

Yang Jung bersiap pergi berperang. Putrinya, Seol Ran, sangat cemas karena ayah dan tunangannya harus bertarung sebagai musuh.

Kedua pihak, BuYeo dan Han, sudah siap mengirimkan pasukan mereka ke medan perang. Pasukan Han membentuk perkemahan militer di sebuah padang rumput dan membicarakan strategi perang mereka.
Mereka cemas karena BuYeo sepertinya memiliki kekuatan perang yang besar. BuYeo telah mengetahui kelemahan Iron Army, BuYeo telah menciptakan senjata yang setara dengan Han, dan BuYeo telah berhasil memotong supply kebutuhan pasukan Han.
Yang Jung akhirnya memutuskan bahwa Iron Army harus menyerang lebih dulu dan langsung menghabisi mereka saat itu juga. Langsung selesaikan pertarungan dalam sekali maju.

Di pihak lain, pasukan BuYeo juga sudah membangun perkemahan militer mereka. Para pemimpin perang mengadakan rapat di sana.
Dae So dan Heuk Chi menyarankan agar mereka menunggu sampai kebutuhan pangan pasukan Han habis. Perang langsung hanya akan membuat mereka kehilangan banyak prajurit.
"Pasukan Han pasti akan berusaha menyelesaikan perang ini secepatnya karena mereka kehilangan supply dari Nak Nang." kata Jumong. "Jika kita menunggu, mereka akan menyerang lebih dulu dengan Iron Army. Kita harus bertahan sementara ini dan menunggu saat yang tepat untuk menghabisi musuh dalam satu kali serangan yang besar."
Tiba-tiba seorang prajurit masuk dan melaporkan bahwa Iron Army sudah memulai penyerangan.
Mereka semua terkejut.

Pasukan BuYeo dan Han berhadapan langsung.
Dae So memerintahkan Na Ru sebagai utusan pemulai perang.
Na Ru maju dan berperang dengan utusan Han. Na Ru menang. Iron Army bergerak maju.
"Pemanah, buat formasi!" perintah Jumong. "Tembak!"
Pasukan pemanah BuYeo memanah kaki kuda Iron Army dan berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka. Iron Army mundur.
Young Po ingin mengejar, namun Jumong melarang. "Justru itulah yang mereka mau. Pasukan boleh beristirahat."

Iron Army kembali ke markas perkemahan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu pemimpin pada Yang Jung, melihat bahwa pasukan BuYeo tidak mengejar pasukan mereka. "Mereka berniat melakukan perang jangka panjang. Siapa pemimpin mereka?"
"Jumong." jawab Yang Jung.
Pengawal Yang Jung mendadak datang dan memberikan berita baik untuk Han. Han telah memenangkan pertarungan dengan Yi. "Pasukan Han dibawah pimpinan Yo Dong sedang menuju kemari."

Berita kemenangan Han itu adalah berita buruk bagi BuYeo. Mereka akan kesulitan jika pasukan Yo Dong datang dan memberi bantuan pada pasukan Yang Jung.
Dae So menyarankan agar mereka kembali ke BuYeo, takut kalau-kalau pasukan Yo Dong menyerang BuYeo.
"Pasukan bantuan itu membutuhkan waktu satu atau dua hari untuk sampai di sini." kata Jumong. "Kita juga masih memiliki pasukan SaChulDo di Buyeo. Aku akan memikirkan cara untuk memenangkan perang ini dengan cepat."

Jumong berpikir keras untuk membuat strategi, namun tidak juga menemukan strategi yang tepat. Ia keluar dari kemahnya dan melihat para pengungsi dan Man Ho sedang berkumpul. Man Ho melemparkan sesuatu ke api dan meledak.
"Apa yang kau masukkan ke dalam api?" tanya Jumong.
"Maksudmu ini?" Man Ho menyerahkan sebuat benda bulat kecil berwarna hitam pada Jumong. "Pasukan Da Mul menyebut benda ini sotan. Kami dan Jenderal Hae Mo Su selalu membuat ini saat musim dingin. Ia juga pernah menggunakannya untuk menyerang musuh."
Jumong tertawa, mendapat sebuah ide. "Apa kau tahu bagaimana membuat ini?"
"Ya, tentu saja." jawab Man Ho.

Keesokkan harinya, Jumong menyuruh ketiga temannya untuk memberitahu pasukan agar buang air kecil di sebuah kotak yang sudah mereka sediakan.
"Mulai sekarang, buang air kecil di tempat ini." kata Ma Ri.
"Jika ada yang buang air kecil ditempat lain, kalian akan dihukum sesuai dengan hukum militer." ancam Oyi. "Apa kalian mengerti?!"
Para prajurit bertukar pandang dengan bingung.

Na Ru melaporkan hal tersebut pada Dae So.
"Apa?! Mengumpulkan urin?" tanya Dae So bingung.
"Mungkin Jumong sudah depresi dan mencoba menyemprot musuh dengan urin." kata Young Po pada Dae So.
Dae So menatap Young Po dengan pandangan tajam.
"Aku hanya bercanda, Kakak." kata Young Po, tapi tidak kelihatan seperti bercanda.

Man Ho mengajak Jumong dan yang lainnya untuk mencari sejenis tumbuh-tumbuhan di hutan, kemudian membakarnya.
Abu yang didapat dari hasil pembakaran tersebut dikumpulkan.

Sotan yang mereka buat telah jadi. Jumong menceritakan rencananya pada So Seo No.
"Tapi bagaimana cara kita melempar benda ini pada mereka?" tanya So Seo No. "Jika kita lari ke markas mereka, maka mereka akan memanah kita sebelum kita sampai."
Jumong berpikir, menarik napas panjang.
So Seo No menunjukkan Sotan tersebut pada Sayong. Sayong tersenyum, punya sebuah rencana bagaimana cara melemparkan sotan ke markas musuh.

Esok harinya, Sayong mengajak Jumong dan kawan-kawan ke sebuah padang rumput luas. Ia telah membuat sebuah layang-layang. Beberapa sotan diletakkan di sebuah kantung yang digantungkan di layang-layang.
"Bukankah ini menyelesaikan masalah kalian?" tanya Sayong.
So Seo No sangat senang.

Saat hari sudah gelap, pasukan BuYeo keluar dari markas mereka dan mengendap-endap mendekati markas musuh.
Tidak terlalu jauh dari mereka, rombongan So Seo No juga sudah bersiap untuk menerbangkan layang-layang.
Pasukan penyerang, dibawah pimpinan Geum Wa, juga sudah siap untuk menyerang begitu Jumong memberikan tanda.


Begitu layang-layang sudah diterbangkan oleh kelompok So Seo No, kelompok Jumong mengarahkan panah api ke arah layang-layang tersebut.
Sotan yang digantungkan di layang-layang tersebut terbakar, meledak, dan berjatuhan ke markas pasukan Han.
Pasukan Han panik dan kelabakan karena markas mereka diserang dengan bom api.
"Padamkan api!" perintah Yang Jung.
"Serang!" perintah Geum Wa.
"Serang!" Jumong memerintahkan pasukannya.

sinopsis jumong episode 30


Wan Ho menangis ketika ia melihat Dae So. "Kau tidak terluka, kan?" tanyanya.
"Karena ketidakmampuanku, aku membuat ibu cemas." kata Dae So, menangis. "Maafkan aku."
"Kau tidak melakukan hal yang salah. Ini semua bukan salahmu." kata Wan Ho. "Aku akan melakukan apapun untuk membuat Yoo Hwa dan Jumong membayar penghinaan yang mereka berikan padamu."

Jumong meminta Geum Wa agar menarik kembali keputusannya mengangkat Jumong menjadi pemimpin pasukan. Namun Geum Wa yakin bahwa Jumong pasti bisa melakukannya.
"Kita harus memenangkan perang ini." kata Geum Wa. "Hanya dengan begitulah kita bisa membuat SaChulDo dan semua orang yang menentang kekuasaanku, menyerah. Mulai saat ini, persiapan perang kau yang mengurusnya."
"Ya, Yang Mulia."
"Jika kita kalah dalam perang ini, mungkin aku harus turun dari tahta." ujar Geum Wa. "Untukmu, mungkin kau tidak akan bisa melindungi Yoo Hwa lagi."

Song Ju membantu Jumong melatih para pengawal. Saat melihat Jumong datang, mereka langsung berhenti berlatih.
Jumong mengatakan pada mereka bahwa mulai saat ini, mereka harus berlatih siang dan malam tanpa berhenti.
Satu per satu pengawal mulai berlatih intensif melawan Iron Army palsu.

Young Po kesal karena harus menjadi bawahan Jumong. Ia menemui kakaknya, Dae So, untuk bertanya apakah mereka harus menerima begitu saja keputusan Yang Mulia.
"Mau bagaimana lagi?" tanya Dae So pasrah. Ia kemudian mengajak Young Po ke tempat Jumong melatih pasukannya.
"Ada apa kakak kemari?" tanya Jumong.
"Sebagai Komandan, kami seharusnya melapor padamu." kata Dae So. "Jika kau butuh bantuanku, katakan saja padaku."
"Kakak!" Young Po protes.
"Diam!" bentak Dae So.
Jumong tersenyum. "Walaupun Yang Mulia berkata seperti itu, tapi mana mungkin aku membuat kedua kakakku sebagai bawahanku? Perang ini adalah demi BuYeo. Jika kakak ikut serta dalam perang ini, tentu hal tersebut sangat bagus bagi BuYeo."
"Baiklah." kata Dae So. "Aku ingin sekali tahu bagaimana Komandan memimpin pasukan. Jika kau mengizinkan, aku dan Young Po ingin ikut ambil bagian dalam rapat strategi militer."
"Aku pasti akan mengundang kakak." kata Jumong.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo curiga. Ma Ri protes pada Jumong.
"Apakah benar Komandan mengizinkan Pangeran Dae So ikut dalam rapat?" tanya Ma Ri. "Dia sudah membuat kesepakatan dengan Yang Jung. Mungkin saja dia akan membocorkan strategi militer kita pada musuh."
"Aku punya rencana. Kau tidak perlu khawatir." kata Jumong.

Oo Tae dan Gye Pil telah kembali ke BuYeo. So Seo No berterima kasih pada Oo Tae karena telah melindunginya.
Oo Tae tersenyum. "Jika aku bisa melakukan sesuatu untuk Nona, jika aku punya kesempatan untuk melindungi Nona, bagiku, itu adalah sebuah kehormatan."
Yeon Ta Bal mengadakan rapat dengan So Seo No, Gye Pil, Oo Tae dan Sayong.
"Sejak dulu, kita sudah membina hubungan baik dengan Han juga dengan negara tetangga yang lain." kata Yeon Ta Bal memulai. "Namun saat ini kita akan membantu BuYeo dalam menyediakan kebutuhan mereka, maka hubungan kita dengan Han pasti akan menjadi buruk. Kita tidak tahu bagaimana hal ini akan berdampak bagi GyehRu. Tapi karena kita sudah membuat keputusan, maka kita akan melakukan semampu kita agar bisa menghasilkan keuntungan."
"Aku sudah menyiapkan segara kebutuhan." kata So Seo No pada Gye Pil dan Oo Tae. "Namun semuanya masih belum sempurna. Karena itu aku butuh bantuan kalian berdua."
"Aku akan menemui Geum Wa untuk mengkonfirmasi bahwa kita akan menjadi penyedia kebutuan militer mereka." kata Yeon Ta Bal.

Geum Wa menanyakan status persiapan untuk perang. Saat itulah Yeon Ta Bal tiba bersama So Seo No.
"Kudengar Yang Mulia akan melakukan perang dengan Jibun dan Imdun." kata Yeon Ta Bal. "Izinkan kelompok pedagang kami untuk menyediakan kebutuhan selama perang."
"Ini adalah perang antara Han dan BuYeo." kata Geum Wa. "Jika kelompok pedagang Yeon Ta Bal membantu kami, hubungan Jolbon dengan Han akan menjadi buruk. Apakah hal tersebut tidak apa-apa untukmu?"
"Tidak perlu khawatir, Yang Mulia." Yeon Ta Bal berkata. "Aku akan menyelesaikan hubungan klanku dengan Han."
"Baiklah. Aku mengizinkan Yeon Ta Bal sebagai supplier kebutuhan perang BuYeo." kata Geum Wa memutuskan.

Kini saatnya mengunjungi bengkel pandai besi untuk melihat persiapan disana.
"Yang Mulia, sejak pandai besi dari Han pergi, kami tidak bisa membuat pedang baja lagi." kata pandai besi BuYeo. "Mereka tidak mengajarkan kami teknik mereka."
Geum Wa menarik napas panjang dan menoleh ke arah Dae So dengan pandangan menusuk.
"Pedang baja yang pernah mereka hasilkan, berapa jumlahnya?"
"Tidak mencapai 100, Yang Mulia."
Geum Wa cemas.
"Yang Mulia, aku menyarankan memanggil Ketua Pandai Besi yang saat ini sedang berada di GyehRu, Mo Pal Mo." kata Jumong. "Ketua Mo Pal Mo sudah berhasil membuat senjata baja yang kekuatannya setara dengan Han."
Geum Wa dan yang lainnya menoleh dengan terkejut.
"Benarkah?!" tanya Geum Wa.
"Ya, Yang Mulia."
Dae So melirik Jumong dengan pandangan kemarahan yang sangat sangat sangat besar. Jumong telah berhasil mengalahkan dia satu lagi.

Setelah dari bengkel pandai besi, Geum Wa mengunjungi mantan Pasukan Da Mul dan para pengungsi yang sedang berlatih.
Geum Wa melihat seorang anak kecil yang ikut berlatih disana. "Siapa namamu?" tanya Geum Wa.
"Namaku Cheon Dong." kata anak itu.
"Berapa umurmu?"
"Umurku 16 tahun." kata Cheon Dong.
"Komandan." panggi Geum Wa pada Jumong. "Anak ini masih terlalu muda. Akan lebih baik jika menempatkannya pada unit logistik."
"Yang Mulia, tolong izinkan aku tetap berada di barisan depan." kata Cheon Dong. "Saat ayahku menjadi Pasukan Da Mul, dia juga berada di barisan depan."
Cheon Dong tetap bersikeras walaupun sudah dibujuk.

Persiapan intensif perang.
Jumong, Jenderal Heuk Chi, Dae So dan Young Po mengadakan rapat untuk menentukan strategi penyerangan yang dilakukan.
Geum Wa dan beberapa pejabat lain juga merencanakan strategi bertahan.
Para pengawal berlatih tanpa berhenti.
Mo Pal Mo dan para pandai besi BuYeo membuat pedang baja.
Yoo Hwa dan para pelayan wanita bekerja meruncingkan kayu membuat panah.

Ada satu masalah lagi yang belum bisa diselesaikan Jumong. Iron Army akan menjadi pasukan baris depan Han. Mereka merupakan pasukan berkuda.
"Untuk memenangkan perang ini, kita membutuhkan pasukan berkuda." kata Jumong pada So Seo No." Hal ini sangat mengkhawatirkan."
"Apakah kau pernah mendengar kelompok MalGal?" tanya Oo Tae.
"Bukankah mereka kaum nomaden?" tanya Jumong.
"Benar. Kudengar kemampuan berkuda mereka sangat hebat." ujar So Seo No.

Dae So berpikir. Ia lalu menuliskan sebuah surat, yang dikirimkannya pada Yang Jung. Benar-benar pengkhianat.

Di Hyeon To, kepala klan BiRyu, Song Yang, menemui Yang Jung.
"Gubernur, aku kemari karena ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu." kata Song Yang.
Yang Jung menunggu.
"BuYeo sedang merencanakan penyerangan Jinbun dan Imdun." kata Song Yang.
"Aku sudah tahu." ujar Yang Jung ringan.
"Lalu, apakah kau juga sudah tahu bahwa Yeon Ta Bal akan menjadi supplier mereka?"
Yang Jung terkejut. "Yeon Ta Bal?"
"Aku tahu bahwa kau dan Yeon Ta Bal membuat kesepakatan untuk membina hubungan baik." kata Song Yang memprovokasi. "Tapi sepertinya Yeon Ta Bal tidak menunjukkan kesetiaan dan kejujuran. Yeon Ta Bal sudah mempermalukan Jolbon. Demi Han, aku akan melakukan apapun. Karena itulah aku disini."
Satu lagi pengkhianat bangsa.
"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Yang Jung.
"Jika perlu, aku bisa mengirimkan pasukanku." Song Yang menawarkan.
"Berapa pasukan yang dimiliki BiRyu?" tanya Yang Jung merendahkan. "Jika kami butuh bantuanmu, kami akan menghubungimu."

Jumong meminta bantuan So Seo Ni dan yang lainnya untuk mengantarnya menemui kaum nomaden MalGal. Saat hari sudah malam, mereka bermalam di sebuah padang rumput.
Saat Oo Tae, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo sudah tertidur, Jumong dan So Seo No berbincang.
"Kenapa saat itu kau meninggalkan BuYeo?" tanya So Seo No. "Kenapa saat itu kau bingung? Apa kau tidak mau bercerita padaku?"
Jumong hanya tersenyum.
So Seo No ngambek. "Aku sudah bodoh mau memenuhi hatiku denganmu. Tapi kurasa itu tidak akan lama."
Jumong tertawa.
"Ada seseorang... yang mengubah hidupku." kata Jumong. "Seperti kayu bakar ini, dia memberi orang-orang kehangatan, namun membakar dirinya sendiri dan lenyap."
"Apakah kau bicara tentang Jenderal Hae Mo Su?" tanya So Seo No.
"Jika aku tidak bertemu dengannya, aku pasti masih hidup dengan seenaknya." kata Jumong sedih. "Setelah dia meninggal, aku baru menyadari bahwa aku ingin mewujudkan sesuatu yang hebat."
"Dia benar-benar telah merubah hidupmu." kata So Seo No.
"Sebelumnya, dia adalah guruku. Tapi dia adalah ayahku."
So Seo No terkejut.
"Aku tidak tahu kenyataan ini sampai ia meninggal." Jumong melanjutkan. "Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk memanggilnya ayah. Aku membiarkan ayahku mati dengan tragis. Itu sangat menyiksaku." Jumong hampir menangis. "Sekarang, aku akan mewujudkan mimpi ayah yang hebat. Aku akan menyelamatkan para pengungsi GoJoSeon dan merebut kembali wilayah kami yang hilang."
Oo Tae ternyata tidak tidur. Ia mendengar semua percakapan mereka.

Keesokkan harinya, Jumong dan kawan-kawan telah sampai di Gunung Baek, tepat kaum nomaden MalGal tinggal untuk sementara.
Jumong berunding dengan ketua kelompok tersebut, Baek San.
"Kalian ingin kami ikut berperang?" tanya Baek San. "Kenapa?"
"Jika kau membantu BuYeo, kami akan memberimu tanah yang subur untuk tinggal." kata Jumong.
"Semua daratan di bumi ini adalah rumah kami." kata Baek San. "Kenapa kami membutuhkan tanahmu?"
Jumong gagal mengadakan perundingan. So Seo No tertawa ketika mendengar bahwa Jumong menawarkan tanah untuk kaum nomaden.
"Bukankah mereka berpindah-pindah karena tidak memiliki tanah mereka sendiri?" tanya Jumong.
"Mereka berpindah karena itulah takdir mereka." jawab So Seo No. "Biar aku yang bicara dengan mereka."
So Seo No masuk ke tenda untuk berunding. Setelah itu, ia keluar dengan senyum merekah. So Seo No berhasil melakukan perundingan. Jumong tersenyum lega.

Di GyehRu, Yeo Mi Eul berdoa. Setelah itu, ia meminta pelayannya untuk membawakan selembar kain kuning. Yeo Mi Eul melukiskan sesuatu di atasnya dengan cat berwarna merah. Ia melukiskan Burung Berkaki Tiga.
Yeo Mi Eul menyuruh orang untuk mengirimkan bendera tersebut pada Pangeran Jumong dan meminta So Ryeong dan Putri Bintang agar bersama-sama mendoakan Jumong.

Ketika Jumong menerima bendera dari Yeo Mi Eul, Jumong tersenyum. Bendera itu dikirimkan bersama dengan surat.
"Burung Berkaki Tiga akan melindungi Tuannya, bahkan di tempat yang jauh dari sinar." Yeo Mi Eul berkata dalam suratnya. "Aku akan berdoa untuk Tuan Burung Berkaki Tiga."

Jumong merencanakan untuk membawa pasukan yang lain sebelum pasukan utama berangkat.
"Aku ingin memotong kiriman suplier dari Nak Rang dan menahan pasukan Hyeon To beberapa saat. Setelah itu, BuYeo bisa menyerang Jinbun dan Imdun." kata Jumong pada Geum Wa.
Jumong membuka petanya. "Yang Mulia, disini adalah Lembah Ekor Ular. Yang Jung akan menggunakan jalur terdekat dengan melewati lembah ini. Di sini, kita akan menahan pasukan bantuan Yang Jung. Lalu, pasukan utama akan menyerang Jinbun dan Imdun."
Geum Wa mengangguk. "Aku mengerti. Cepatlah bergerak."

Jumong mulai memilih orang yang akan diajaknya berhgabung dalam pasukan lain. Ia meminta Oyi mengajak mantan Pasukan Da Mul dan beberapa pengungsi untuk ikut karena mereka mengenal wilayah lembah tersebut dengan baik.

Kabar itu di dengar oleh Na Ru. Ia kemudian melaporkan pada Dae So.
"Kemana pasukan ini menuju?" tanya Dae So.
"Aku tidak tahu." jawab Na Ru.
Dae So berpikir dan melihat peta. "Na Ri, kau harus pergi ke Hyeon To." katanya.
"Pangeran, apakah kau berniat..." Na Ru menatap Dae So, kemudian berlutut. "Pangeran, bunuh saja aku. Untuk Pangeran, aku akan melakukan apapun. Tapi tidak untuk hal ini. Bagaimana bisa kau menginginkan aku mengkhianato negaraku sendiri? Bunuh saja aku."
"Jangan khawatir. BuYeo tidak akan jatuh." kata Dae So. "Na Ru, percayalah padaku."

Pasukan lain di bawah pimpinan Jumong siap berangkat. Geum Wa mengantar kepergian mereka.
"Aku akan selalu berada bersama kalian!" seru Geum Wa. "Setelah menyelesaikan misi ini, kembalilah dengan selamat dan bergabung dengan pasukan utama. Berperanglah tanpa takut mati. Kemenangan akan menjadi milik kita!"
Pasukan bersorak.
Jumong dan pasukannya berangkat.


Blogspot Template by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Home Interiors